Hari ini, Kamis 12/9, seperti Kamis-kamis yang lain, rapat Balairungklass diadakan. Namun rapat kali ini beda dari rapat-rapat biasanya. Di rapat ini, ada semacam perpisahan kecil untuk beberapa anggota Balairungklass yang banting setir untuk berkuliah di STAN maupun beasiswa ke China. Sebut saja Irfan, Bangga, Burhan, Nana, dan Fitri. Mereka sudah memastikan diri mereka untuk bergabung di STAN. Sebut saja Handika, yang telah mendapat beasiswa studi ke China.
Yah sedih juga sih rasanya. Mereka semua selama ini adalah tangan kanan saya di Balairungklass. Namun kali ini mereka harus berpisah dari Balairungklass. Beberapa jagoan Balairungklass kini telah menemui dunia barunya. Tapi bukan Balairungklass kalau tidak mendukung anggota-anggotanya untuk sukses. Setelah rapat, mereka berpamitan sekaligus saling mendoakan agar kita bisa sukses di jalan kita masing-masing. Aamiin. Semoga sukses di tempat barunya, sob!
Bagi kami, ada yang pergi, pasti ada yang datang. Jagoan lama telah pergi, jagoan baru telah datang. Welcome Balairungklass 2013! Balairungklass ada di tangan kalian. Bawa nama Klaten bersama Balairungklass. Oke? Pastikan setiap selesai rapat dari Balairungklass, kalian pulang dengan membawa manfaat. Siap?
Di mata saya, Balairungklass saat ini telah dipenuhi jagoan-jagoan yang luar biasa, mulai dari angkatan 2012 maupun angkatan 2013. Saya yakin, kalian bisa membawa nama Balairungklass semakin tinggi dan maju. asalkan kalian mau bekerja keras, mau berkontribusi, dan mau maju di Balairungklass. Teruskan perjuangan ini teman-teman!
Kamis, 12 September 2013
Rabu, 21 Agustus 2013
Indonesia (harusnya) Bisa !
Banyak masyarakat Indonesia yang hopeless liat keadaan Indonesia sekarang. Gimana enggak, di media banyak berita pemerintah korupsi, pembunuhan di mana-mana, terorisme, skandal seks, dan masih banyak bad news lainnya. Yah, degradasi moral memang sudah terjadi di mana-mana. Intinya, kejelekan bangsa kita jika disebutkan satu per satu gak akan habis !
Kalo prinsip media sekarang, bad news is a good news. Semakin jelek yang diberitakan, semakin tertarik para pemirsa maupun pembacanya. Aneh ya ? Kalau keadaannya sudah begini, optimisme terhadap bangsa Indonesia semakin berkurang. Rakyat Indonesia semakin gak percaya dengan negaranya sendiri. Bukannya memakai produk asli Indonesia, malah bangga menggunakan produk impor, bukannya memakai budaya Indonesia, malah memuja-muja budaya luar negeri. Miris! Kalau sudah begini, gimana Indonesia maju ? Lha wong masyarakatnya udah "males" duluan sama Indonesia.
Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah optimisme dan kontribusi, bukan cemoohan maupun hujatan. Daripada menyalahkan kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Betul ? Nah, inilah tugas kita untuk memberi kontribusi yang nyata. Lalu seperti apa kontribusi nyata itu ? Sebetulnya mudah kok. Jalankan saja peran kita di Indonesia sebaik mungkin. Untuk siswa sekolah silakan belajar yang rajin, hormati orang tua, mengikuti organsisasi, dan sebagainya. Untuk mahasiswa, bisa dengan kuliah yang baik, ikuti organisasi maupun kegiatan-kegiatan positif lainnya. Kalau semua masyarakat Indonesia bisa menjalankan perannya dengan sebaik mungkin, tidak mustahil Indonesia bisa menjadi negara maju. Betul ?
Jangan lupa, saat ini Indonesia juga memiliki putra-putri bangsa yang sangat hebat dan membanggakan, lho. Sebut saja pak Jokowi yang sudah menata kota Solo dengan ciamik dan kota Jakarta yang saat ini sudah mulai kelihatan progressnya. Ada juga bu Tri Rismaharini, walikota Surabaya yang saat ini sudah menjadi kota yang sangat bersih. Lalu ada juga beberapa atlet bulutangkis Indonesia menjuarai event bulutangkis internasional. Di kalangan mahasiswa pun juga banyak. Ada tim Bima Sakti UGM yang mewakili Indonesia di kompetisi mobil di Jepang, ada aktivis-aktivis BEM yang memperjuangkan rakyat Indonesia, ada aktivis organisasi mahasiswa yang sangat kreatif dengan kegiatan-kegiatan positifnya, ada mahasiswa yang berbisnis dan membuka lapangan kerja.
Dari itu semua, kita sekarang tahu ternyata masih banyak orang potensial yang ada di Indonesia serta mau untuk memajukan Indonesia. Jadi, buat kalian yang masih pesimis dengan kemajuan Indonesia, coba dipikir lagi deh :)
Jumat, 16 Agustus 2013
A Lesson, An Experience
Sebenernya ini tugas kepemanduan, tapi boleh deh di-share di sini. Ini tentang dua tahun saya kuliah di JTETI UGM. Semoga bermanfaat ^^
Motivasi Hidup
Motivasi Hidup
Sejujurnya saya mulai mengenal tentang motivasi hidup saat saya berada
di kelas 3 SMA. Saat itu sekolah saya sering mengadakan diskusi mengenai sukses
UN, sukses SNMPTN, masa depan, dunia perkuliahan, dan lain sebagainya. Nah,
sejak saat itu, saya baru berpikir, hidup saya sebenarnya mau dibawa ke mana
sih ? Masa depan saya beberapa tahun lagi seperti apa ? Saya saat itu hanya
berkhayal kalau suatu saat nanti saya bisa menjadi orang yang sukses, dipandang
oleh orang-orang, dan lain sebagainya. Padahal sejujurnya saya sendiri saat itu
tidak bisa mendifinisikan sukses tersebut. Entah menjadi pengusaha, pekerja
kantoran, pemimpin daerah, dan lain sebagainya.
Tiba saatnya saya harus menentukan kelanjutan masa studi saya. Saya
berpikir bahwa sebaiknya saya mengambil program studi teknik elektro. Saya
teringat cerita ibu saya yang mengatakan bahwa anak teman ibu saya diterima di
teknik elektro UGM. Kata ibu saya, elektro UGM itu bagus. Lalu pada kesempatan
lain, saya pernah bertemu teman saya yang sehobi: pecinta kereta api. Dia
bercerita bahwa di PT KAI, lowongan kerja untuk sarjana teknik elektro cukup
besar. Dari dua cerita tersebut, saya semakin mantap untuk memilih teknik
elektro.
Lalu saya berdiskusi dengan kedua orang tua saya. Sebenarnya kedua
orang tua saya –keduanya berprofesi sebagai dokter- lebih memilih saya untuk
berkuliah di program studi kedokteran agar saya bisa meneruskan perjuangan
orang tua saya. Namun kami melihat bahwa nilai-nilai uji coba SNMPTN yang
pernah saya kerjakan masih kurang untuk diterima di kedokteran. Akhirnya kami
memutuskan untuk mendaftar di teknik elektro. Alhamdulillah, melalui jalur
SNMPTN tulis, saya diterima di teknik elektro UGM.
Akhirnya saya merasakan kuliah. Hari demi hari saya jalani di teknik
elektro bersama anak-anak teknologi informasi karena dua jurusan tersebut
tergabung dalam jurusan JTETI. Lama kelamaan saya merasa kesulitan untuk
berkuliah di sini. Saya kesulitan memahami ilmu-ilmu yang diberikan oleh dosen.
Kesulitan demi kesulitan muncul hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti
kembali SNMPTN 2013. Pada saat itu saya merasa bahwa saya tidak cocok di teknik
elektro. Namun, saat pengumuman SNMPTN 2013, saya tidak diterima. Saat itu saya
mendaftar program studi kedokteran umum. Saya dengan orang tua saya berdiskusi
lagi mengenai hal itu. Kami pun bersepakat bahwa jalan hidup saya adalah di
teknik elektro UGM.
Satu pelajaran berharga dari kejadian
tersebut adalah bahwa mengetahui hal-hal yang akan dipelajari sebelum memilih
program studi adalah penting dan wajib. Harus diakui, motivasi saya memilih
program studi teknik elektro saat itu adalah karena teknik elektro bergengsi
dan lowongan kerja untuk sarjana teknik elektro sangat banyak. Dengan motivasi
seperti itu, sulit rasanya untuk terus bertahan menghadapi kesulitan di teknik
elektro. Namun kedua orang tua saya mengatakan bahwa teknik elektro lah jalan
hidup saya dan saya harus menjalaninya dengan maksimal. Lama kelamaan, saya
bisa menerima hal tersebut. Saya kembali bersemangat untuk berkuliah di teknik
elektro. Saya meyakini bahwa saya akan mendapat manfaat yang banyak di sini.
Mungkin nilai saya tidak begitu bagus, namun setidaknya ada peningkatan
dibandingkan dengan sebelumnya.
Selama saya menjadi mahasiswa, saya sering mengikuti seminar-seminar
yang berhubungan dengan self improvement maupun
entrepreneurship. Salah satu hal
penting yang telah saya dapatkan dari seminar-seminar tersebut adalah kita
harus mempunyai tujuan yang jelas dalam menjalani hidup. Dari kasus yang telah
saya sampaikan sebelumnya, sangat terlihat bahwa saya belum memiliki tujuan
yang jelas saat memilih untuk berkuliah di teknik elektro. Hasilnya, saya
menjadi tidak semangat kuliah. Itulah akibat dari tidak memiliki tujuan yang
jelas. Jika saya mempunyai tujuan yang jelas, mestinya saya menjalani kuliah
dengan penuh semangat agar tujuan tersebut dapat tercapai.
Maka, ketika saya mulai memasuki semester 3, saya segera membuat
tujuan-tujuan hidup secara jelas. Tentu saja, membuat tujuan hidup tidak
semudah yang kita bayangkan. Kita harus memahami apa saja yang terjadi di
lingkungan kita, harus sesuai dengan passion
kita, dan lain sebagainya. Menurut saya, tujuan hidup haruslah relevan dengan
kemampuan dan keadaan lingkungan kita.
Saya telah menentukan tujuan hidup saya, yaitu menjadi seseorang yang
memiliki value yang baik. Kelak, saya
ingin menjadi kepala keluarga yang baik, bisa menafkahi keluarga dengan lancar,
hubungan dengan keluarga, rekan kerja, tetangga, maupun lingkungan dapat
dijalani dengan harmonis, bisa mendidik anak-anak dengan baik, hidup serba
berkecukupan, dan tentunya yang paling penting adalah Tuhan ridho. Itulah
tujuan hidup saya. Dengan mengingat tujuan itu, saya menjadi lebih bersemangat
dalam menjalani hidup.
Namun, apakah tujuan hidup tersebut sudah
cukup ? Belum. Teman saya menyarankan agar saya membuat target-target jangka
pendek, seperti target lulus empat tahun, target IP di atas 3, dapat mengasah
soft skill dengan mengikuti organisasi/kepanitiaan, dan lain sebagainya.
Semakin jelas lah tujuan hidup saya. Langkah-langkah yang ditempuh untuk meraih
tujuan tersebut menjadi lebih jelas.
Saya meyakini bahwa hard skills yang
telah saya dapat di bangku kuliah tidaklah cukup untuk mencapai tujuan hidup
saya. Saya juga harus melatih soft skills
seperti manajemen waktu, manajemen organisasi, tanggung jawab, inisiatif, pemecahan
masalah, semangat kerja, integritas, dan sebagainya. Bagi saya, soft skills lah yang akan mengiringi
kita menuju kesuksesan. Saya sering mendengar keluhan-keluhan dari para
petinggi perusahaan besar bahwa banyak sekali fresh graduate yang memiliki hard
skills yang mumpuni, namun tidak dibarengi soft skills yang cukup baik. Sangat disayangkan bukan? Maka dari
itu, melatih soft skills di bangku
kuliah merupakan hal yang sangat dianjurkan.
Saya berlatih soft skills
dengan berbagai kegiatan di luar perkuliahan seperti berorganisasi, mengikuti
kepanitiaan, maupun berbisnis. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dari
kegiatan-kegiatan tersebut. Saya bisa berlatih untuk berbicara di depan umum,
mengatur kepanitiaan maupun organisasi, melayani maupun menghormati, memecahkan
masalah bersama teman-teman, dan masih banyak lagi. Dan yang lebih penting lagi
adalah, saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat sekaligus bisa memberi
inspirasi bagi saya. Hal-hal tersebut merupakan pengalaman luar biasa untuk
saya. Saya sangat menyadari bahwa kemampuan-kemampuan tersebut sangat
dibutuhkan ketika saya berada di dunia nyata nanti.
Kesimpulannya adalah, ketika kita mempunyai tujuan yang jelas, maka
kita akan menjadi lebih bersemangat dan gigih dalam meraih tujuan tersebut.
Namun jika kita tidak mempunyai tujuan yang jelas, maka kita menjadi kurang
bersemangat dalam meraih tujuan.
Kamis, 23 Mei 2013
Catatan untuk Para Mahasiswa Aktivis
Teman2, mungkin saat ini kita sedang asik berorganisasi ataupun berbisnis tapi jangan melupakan kewajiban kita, yaitu KULIAH.
Terlalu banyak mahasiswa yg aktif bisnis maupun organisasi tapi melupakan kewajiban kuliah. Kedoknya adalah "soft skill". Dg ikut organisasi soft skill kita nambah, dg bisnis kemampuan bisnis kita juga tambah. Tapi sayang sekali, di antara mereka banyak yg melupakan kuliahnya, sering bolos, kuliah gak serius, ada PR cuma nyontek temen. Alesannya sih karena gak ada waktu utk mikirin kuliah. Hey, itu kewajiban sbg mahasiswa kok malah dikesampingkan.
Ya memang sih, soft skill itu penting. Bahkan wajib kita punya. Tapi anehnya dg belajar soft skill jadi melupakan kuliahnya. Hey, kuliah itu tanggung jawabmu wahai mahasiswa ! Tanggung jawab itu juga soft skill. Anehnya banyak mahasiswa yg tidak menyadarinya. Hayo yg ngerasa segera insyaf woi !
Giliran pas pada udah lulus, bingung "kenapa yg lain udah pada lulus, aku kok belum ya?" Udah gitu, pas ngelamar kerja nih, ditanyain tuh pengalaman organisasi. Jawabannya sih bagus, impresif. Begitu ditanya kenapa lulusnya telat, bingung jawabnya. Sama aja kan ? Kuliah itu juga soft skill. Soft skill tentang bagaimana kita menjalankan kewajiban kita sbg mahasiswa.
Sadarlah wahai mahasiswa, kita dapet mandat dari orang tua utk kuliah, kita menyandang gelar "Mahasiswa" karena tugas kita kuliah. Ya kan ?
Ini bukan berarti saya menentang organisasi ataupun bisnis loh ya. Saya mendukung banget malahan. Karena 2 hal tsb manfaatnya luar biasa. Cumaaaa, jangan lupa tentang kewajiban utama kita. Yaitu kuliah. Get it ?
Buat temen2 2012, mungkin sebagian dari kalian sudah enjoy sbg mahasiswa aktivis. Tapi jangan lupakan tanggung jawabmu ya sbg mahasiswa. Jangan sampe nyesel di kemudian hari. Oke ? :)
Terlalu banyak mahasiswa yg aktif bisnis maupun organisasi tapi melupakan kewajiban kuliah. Kedoknya adalah "soft skill". Dg ikut organisasi soft skill kita nambah, dg bisnis kemampuan bisnis kita juga tambah. Tapi sayang sekali, di antara mereka banyak yg melupakan kuliahnya, sering bolos, kuliah gak serius, ada PR cuma nyontek temen. Alesannya sih karena gak ada waktu utk mikirin kuliah. Hey, itu kewajiban sbg mahasiswa kok malah dikesampingkan.
Ya memang sih, soft skill itu penting. Bahkan wajib kita punya. Tapi anehnya dg belajar soft skill jadi melupakan kuliahnya. Hey, kuliah itu tanggung jawabmu wahai mahasiswa ! Tanggung jawab itu juga soft skill. Anehnya banyak mahasiswa yg tidak menyadarinya. Hayo yg ngerasa segera insyaf woi !
Giliran pas pada udah lulus, bingung "kenapa yg lain udah pada lulus, aku kok belum ya?" Udah gitu, pas ngelamar kerja nih, ditanyain tuh pengalaman organisasi. Jawabannya sih bagus, impresif. Begitu ditanya kenapa lulusnya telat, bingung jawabnya. Sama aja kan ? Kuliah itu juga soft skill. Soft skill tentang bagaimana kita menjalankan kewajiban kita sbg mahasiswa.
Sadarlah wahai mahasiswa, kita dapet mandat dari orang tua utk kuliah, kita menyandang gelar "Mahasiswa" karena tugas kita kuliah. Ya kan ?
Ini bukan berarti saya menentang organisasi ataupun bisnis loh ya. Saya mendukung banget malahan. Karena 2 hal tsb manfaatnya luar biasa. Cumaaaa, jangan lupa tentang kewajiban utama kita. Yaitu kuliah. Get it ?
Buat temen2 2012, mungkin sebagian dari kalian sudah enjoy sbg mahasiswa aktivis. Tapi jangan lupakan tanggung jawabmu ya sbg mahasiswa. Jangan sampe nyesel di kemudian hari. Oke ? :)
Kamis, 24 Januari 2013
Everything has Changed !
Dulu pas SMA, saya merasa kelak di dunia perkuliahan nanti, pasti kehidupannya berbeda. Kenyataannya memang berbeda banget. Tahun pertama kuliah dengan tahun kedua kuliah aja udah beda. Mulai dari lingkungan, cara berpikir, fisik, kesibukan, dan yang lain sebagainya.
Wajar jika setiap siswa yang bermetamorfosis menjadi mahasiswa, kehidupannya juga bermetamorfosis. Tapi, tidak banyak mahasiswa yang tahun pertama dan tahun kedua di bangku kuliahnya memiliki kehidupannya jauh berbeda. Saya termasuk yang kehidupannya jauh berbeda, menurut saya.
Berikut adalah perbedaan yang saya rasakan antara kuliah tahun pertama dengan tahun kedua :
1. Fisik
Sudah puluhan ribu juta orang (halah!) yang bilang "Aye sekarang lebih genduutt" yang notabene mereka mengatakannya saat saya kuliah di tahun kedua. Hmm, shit just happened. Whataver it is, perubahan fisik juga terjadi. Mulai dari perut kecil sampe membesar seperti saat ini hahaha. Tahun pertama kuliah, lebih santai kuliahnya, olahraga lebih sering. Tahun kedua kuliah, kuliahnya rapet depan belakang kanan kiri, sibuk kepanitiaan, jadi jarang olahraga, sedikit tidur, banyak makan, gendut deh !
2. Teman lama
Di tahun pertama kuliah, saya lebih sering bergaul dengan teman-teman SMA saya maupun sahabat-sahabat saya yang telah saya kenal sebelum kuliah. Pokoknya tiap mau jalan-jalan pasti bareng mereka. Tapi lambat laun hal itu mulai berubah. Sebagian teman-teman mulai punya kesibukan lain. Ada yang sibuk di kepanitiaan, ada yang mulai aktif di organisasi, ada juga yang punya pacar baru, saya sendiri termasuk yang sibuk di kepanitiaan. Kami mulai agak jarang main bareng, walaupun sesekali kalau ada waktu pasti kami gunakan untuk ngumpul lagi. Yang pasti, sesibuk apapun kami, kami tetap teman =D
3. Teman baru
Di tahun kedua ini, saya merasa semakin dekat dengan teman-teman yang ada di kampus maupun di organisasi. Mungkin karena memang sering bertemu. Mulai dari ngerjain tugas bareng, bikin alat bareng, dan lain-lain. Intinya seneng bareng, nangis juga bareng :-)
4. Organisasi dan Bisnis
Organisasi dan bisnis yang saya kerjakan di kampus cukup membuat kehidupan saya berubah. Mulai dari Electropreneur hingga ke BalairungKlass. Hmm, ada yang belum Electropreneur maupun BalairungKlass ? Googling aja kalo pengen tahu :-) Dua organisasi tersebut cukup mengubah kehidupanku, dari yang awalnya gak tahu apa-apa. sekarang mulai ngerti tentang bisnis maupun organisasi. Softskill lah yang saya dapatkan.
5. Cara belajar
Cara belajar saya akhir-akhir ini cukup sederhana. Cukup dengan pelajari contoh soalnya, ngerti caranya, akhirnya bisa ngerjain ujian deh. Lupakan saja apa itu konsep. It is simple. Kalau tahun lalu, saya baca buku materi tebel-tebel tapi hasilnya IP 3 aja nggak nyampe !
Yang pasti, semakin lama saya semakin bersyukur karena saya memiliki lingkungan yang sangat baik, yang sangat mendukung saya untuk maju.
Cukup sekian paparan dari saya. Apabila ada . . (terusin sendiri ya..)
Wajar jika setiap siswa yang bermetamorfosis menjadi mahasiswa, kehidupannya juga bermetamorfosis. Tapi, tidak banyak mahasiswa yang tahun pertama dan tahun kedua di bangku kuliahnya memiliki kehidupannya jauh berbeda. Saya termasuk yang kehidupannya jauh berbeda, menurut saya.
Berikut adalah perbedaan yang saya rasakan antara kuliah tahun pertama dengan tahun kedua :
1. Fisik
Sudah puluhan ribu juta orang (halah!) yang bilang "Aye sekarang lebih genduutt" yang notabene mereka mengatakannya saat saya kuliah di tahun kedua. Hmm, shit just happened. Whataver it is, perubahan fisik juga terjadi. Mulai dari perut kecil sampe membesar seperti saat ini hahaha. Tahun pertama kuliah, lebih santai kuliahnya, olahraga lebih sering. Tahun kedua kuliah, kuliahnya rapet depan belakang kanan kiri, sibuk kepanitiaan, jadi jarang olahraga, sedikit tidur, banyak makan, gendut deh !
2. Teman lama
Di tahun pertama kuliah, saya lebih sering bergaul dengan teman-teman SMA saya maupun sahabat-sahabat saya yang telah saya kenal sebelum kuliah. Pokoknya tiap mau jalan-jalan pasti bareng mereka. Tapi lambat laun hal itu mulai berubah. Sebagian teman-teman mulai punya kesibukan lain. Ada yang sibuk di kepanitiaan, ada yang mulai aktif di organisasi, ada juga yang punya pacar baru, saya sendiri termasuk yang sibuk di kepanitiaan. Kami mulai agak jarang main bareng, walaupun sesekali kalau ada waktu pasti kami gunakan untuk ngumpul lagi. Yang pasti, sesibuk apapun kami, kami tetap teman =D
3. Teman baru
Di tahun kedua ini, saya merasa semakin dekat dengan teman-teman yang ada di kampus maupun di organisasi. Mungkin karena memang sering bertemu. Mulai dari ngerjain tugas bareng, bikin alat bareng, dan lain-lain. Intinya seneng bareng, nangis juga bareng :-)
4. Organisasi dan Bisnis
Organisasi dan bisnis yang saya kerjakan di kampus cukup membuat kehidupan saya berubah. Mulai dari Electropreneur hingga ke BalairungKlass. Hmm, ada yang belum Electropreneur maupun BalairungKlass ? Googling aja kalo pengen tahu :-) Dua organisasi tersebut cukup mengubah kehidupanku, dari yang awalnya gak tahu apa-apa. sekarang mulai ngerti tentang bisnis maupun organisasi. Softskill lah yang saya dapatkan.
5. Cara belajar
Cara belajar saya akhir-akhir ini cukup sederhana. Cukup dengan pelajari contoh soalnya, ngerti caranya, akhirnya bisa ngerjain ujian deh. Lupakan saja apa itu konsep. It is simple. Kalau tahun lalu, saya baca buku materi tebel-tebel tapi hasilnya IP 3 aja nggak nyampe !
Yang pasti, semakin lama saya semakin bersyukur karena saya memiliki lingkungan yang sangat baik, yang sangat mendukung saya untuk maju.
Cukup sekian paparan dari saya. Apabila ada . . (terusin sendiri ya..)
Rabu, 20 Juni 2012
So Priceless
Selalu ada alasan mengapa suatu kejadian dapat terjadi, entah kejadian sepele ataupun kejadian besar. Apapun kejadiannya, kita selalu dituntut untuk menentukan sikap terhadap kejadian itu. Suatu hal yang baik jika kita dapat mengambil sikap secara benar. Namun bagaimana jika sikap yang kita ambil ternyata salah ? Kalau kata Samudra, teman baik ku, tidak ada kata "salah". Yang ada hanyalah "benar" atau "belajar". Dengan belajar, kita akan menjadi lebih bijaksana menghadapi suatu masalah yang mungkin suatu hari nanti akan datang lagi.
Kejadian pada hari itu adalah kejadian yang besar buat aku. Bukan kejadian yang menyenangkan memang. Rasanya kaget, speechless, undescribed pokoknya. Namun saat itu juga aku dituntut untuk bersikap sebagaimana mestinya. Aku berusaha untuk bersikap sebaik mungkin menghadapi hal itu. Akhirnya aku pun bisa sedikit demi sedikit mengambil pelajaran dari hal itu. Pelajarannya sangat berharga ! Mungkin, boleh dikatakan kalau pelajaran yang didapat jauh lebih berharga daripada ketidaknyamanan yang dirasakan. Tetapi justru hal itulah yang harus disyukuri.
Aku bersyukur bisa berada di tengah orang-orang baik dan hebat. Mereka adalah teman-temanku. mereka bersedia membantuku dan memotivasi aku dengan senang hati. Terima kasih teman !
Jadi, tak ada alasan untuk bersedih lagi. Just get better and always do your best ! =)
Kejadian pada hari itu adalah kejadian yang besar buat aku. Bukan kejadian yang menyenangkan memang. Rasanya kaget, speechless, undescribed pokoknya. Namun saat itu juga aku dituntut untuk bersikap sebagaimana mestinya. Aku berusaha untuk bersikap sebaik mungkin menghadapi hal itu. Akhirnya aku pun bisa sedikit demi sedikit mengambil pelajaran dari hal itu. Pelajarannya sangat berharga ! Mungkin, boleh dikatakan kalau pelajaran yang didapat jauh lebih berharga daripada ketidaknyamanan yang dirasakan. Tetapi justru hal itulah yang harus disyukuri.
Aku bersyukur bisa berada di tengah orang-orang baik dan hebat. Mereka adalah teman-temanku. mereka bersedia membantuku dan memotivasi aku dengan senang hati. Terima kasih teman !
Jadi, tak ada alasan untuk bersedih lagi. Just get better and always do your best ! =)
Kamis, 14 Juni 2012
Ironi Anak Jalanan
barusan sama hero dan jyestha makan ayam karamel di deket GSP. kami bertiga ngobrol ngalor ngidul hingga akhirnya kami mulai membicarakan tentang anak jalanan. lalu yang awalnya berupa berupa obrolan,sekarang mulai berubah menjadi diskusi.
aku bukan seorang sosiolog ataupun psikolog atau apalah. tapi tulisan ini adalah pandanganku terhadap fenomena ini.
Go to the topic...
bagi orang-orang yang sering lewat perempatan MM UGM atau perempatan ringroad jakal pasti sering melihat anak-anak yang ngemis di pinggir jalan meminta belas kasihan dari para pengguna jalan. lalu, pernahkah kita memikirkan tentang kehidupan mereka ? mereka kehilangan hak untuk hidup bebas, hak mendapatkan kehidupan layak, dan hak untuk mendapatkan kasih sayang.
yang aku tahu, mereka meminta-minta bukan untuk dirinya sendiri saja, tetapi juga untuk bos'nya. aku ga habis pikir kenapa mereka bisa bernasib seperti itu. aku bertanya-tanya, mengapa mereka dilahirkan sebagai anak jalanan, bukan sebagai seorang anak yang bisa menikmati masa indahnya. mereka bekerja, padahal seharusnya bermain.
tiap ngeliat mereka cari uang di jalanan, rasanya sedih. kenapa mereka harus melakukan hal seperti itu. tapi di sisi lain, rasanya pengen marah sama orang tuanya kenapa mereka tega membiarkan anak kecil. ada juga seorang ibu yang ngemis sambil menggendong anak kecilnya sambil berpanas-panas menghadapi terik matahari. tega ! kenapa ibu itu tega jemur anaknya yang masih kecil. berharap belas kasihan dari orang ? adanya orang-orang justru pengen marah liat ibu itu.
suatu hari, seorang anak menghampiri motorku sambil meminta uang. antara aku kasih atau enggak. kalo aku kasih, ntar duitnya dimakan ama bosnya. kalo ga aku kasih, rasanya aku jahat banget. serba salah. mungkin dengan kasih makanan secara langsung bisa jadi merupakan solusi yang tepat. tapi ga setiap lewat sana aku selalu bawa makanan kan.
jyestha bilang kalo hal itu adalah kesalahan dari kita semua. apa hubungannya ? mereka adalah produk sosial dari apa yang telah dilakukan. yang dimaksud dengan produk sosial adalah apa yang telah orang-orang lakukan di dunia ini sehingga hal itu bisa menimbulkan semacam kesenjangan sosial yang menyebabkan anak-anak itu mengamen di jalan.
aku ga ngerti harus gimana liat fenomena itu. aku masih ga percaya aja kenapa ada aja kejadian seperti itu. tapi seenggaknya ada pelajaran yang bisa diambil dari fenomena ini. kita harus bersyukur bahwa kita lahir dalam keadaan sehat dan dengan orang tua yang baik dan sangat peduli dengan anaknya. mungkin dengan mengingat hal ini, kita bisa selalu bersyukur atas nikmat yang tak terhingga ini.
mari kita berdoa, berharap, dan berusaha untuk mengembalikan hak mereka yang terampas. semoga ga ada lagi cerita tentang anak kecil yang haknya terampas. amin
Langganan:
Postingan (Atom)